Demi Orang Tua dan Anaknya Q.S. al-Balad: 3

Oleh: KH. M. Ihya Ulumiddin

Pondok Pesantren Pengasuh  

Nurul Haromain Pujon

Malang

بسم الله الرحمن الرحيم

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

ووالد وما ولد

“Demi orang tua dan anak .

 

Analisa Ayat

Tentang maksud orang tua dan anak dalam ayat ini ada beberapa pendapat dari para ahli tafsir:

  1. Nabi Ibrahim alahissalam dan puteranya, yaitu Nabi Ismail alaihissalam di mana tafsir ini selaras dengan permulaan ayat yang menggunakan Makkah sebagai sumpah sementara Nabi Ibrahim alaihissalam dan sang putera adalah figur peletak dasar kehidupan di kota Makkah.
  2. Nabi Adam alaihissalam dan seluruh anak panah karena semua ciptaan Allah subhanahu wata’ala yang paling menakjubkan di muka bumi ini.
  3. Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan umatnya berdasarkan hadits:

إنما أنا لكم بمنزلة الوالد أعلمكم

“Sesungguhnya seorang ku Hanyalah seperti bapak Kalian, aku Senantiasa memberikan Pelajaran ditunjukan kepada Kalian …” [1]

 

Mengacu pada tafsiran ini, maka ayat di atas adalah bentuk kalimat yang memiliki makna sangat memuliakan Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam karena dia dan umat yang dijadikan oleh Allah subhanahu wata’ala sebagai kalimat sumpah dalam kitab-Nya.

  1. Orang tua dan anak secara umum yang merupakan suatu keajaiban luar biasa yang kurang dirasakan, di mana peralihan generasi manusia ke generasi berikutnya adalah melalui proses orang tua dan anak.

Imam Ibnu Jarir mengatakan semua ini sudah dibenarkan karena ayat ini tidak umum dan tidak dibatasinya pada tafsir dengan dalil-dalil yang memang wajib diterima.

Berpijak pada tafsirkan, maka ada pelajaran yang bisa dipetik, yaitu antara orang tua dan anak memiliki keterikatan yang sangat kuat tanpa bisa terkena oleh apapun termasuk kematian. Setelah kematian, terjemah masih bisa terjalin dengan bukti itu orang tua masih bisa menerima pembagian pahala dari jalur anak-anaknya dalam riwayat riwayat Abu Hurairah radhiyallahu anhu:

إذا مات الإنسان انقطع عمله إلا من ثلاثة: إلا من صدقة جارية أو علم ينتفع به أو ولد صالح يدعو له

 

“Kalau manusia telah meninggal dunia , maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya, dan anak s h al i h yang mendoakannya . ” (HR al-Bukhari dalam al Adab alMufrad dan Imam Muslim dari Abu Hurairah t) [2]

Ini dengan syarat orang tua bisa mendidik anaknya dengan pendidikan agama sebelum yang lain, yang sudah pasti itu ilmu yang bermanfaat sekaligus sedekah jariyah. Adapun selain pendidikan agama tidak bisa disebut bermanfaat bisa bawa pemiliknya ke ketakwaan dan amal shalih atau bisa bermanfaat bagi orang lain.

Selain itu, antara orang tua dan anak ada rasa saling mengasihi yang sangat kuat ini adalah modal rahmat Allah subhanahu wata’ala:

ارحموا من فى الأرض يرحمكم من فى السماء

 

“Sayangilah orang yang ada di bumi , maka orang yang ada di langit akan menyayangi kalian . [3]

 

Saling terikat kuat dan saling saling antara orang tua dan anak ini tidak bisa jas atau dihilangkan oleh kekurangan apapun pada diri mereka masing-masing. Jika antara orang tua dan anak yang memiliki hubungan secara biologis demikian kuat, maka hubungan antara seorang mukmin dengan saudara seiman seharusnya seperti ini karena Allah subhanahu wata’ala berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang beriman ini bersaudara …”

 

Ikatan persaudaraan iman ini harus dimengerti karena sesuatu ikatan yang sangat kuat dan bahkan bisa jadi melebihi ikatan keturunan karena antara orang tua dan anak tidak bisa saling melengkung di antara mereka ada perbedaan dalam keimanan. Sementara itu oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kesimpulan pula persaudaraan di antara orang-orang beriman harus terwujud dalam bentuk tiga hal:

ترى المؤمنين فى تراحمهم وتوادهم وتعاطفهم كالجسد إذا اشتكى عضو تداعي له سائر جسده بالسهر والحمي

 

“Kamu melihat orang-orang beriman dalam taraahum, tawaadud , dan ta’aathuf di antara mereka adalah satu tubuh yang jika ada satu anggota tubuh yang menderita , maka semua korban saling mengingatkan untuk tidak berkenan tidur dan panas . [4]

  1. Taraahum , kasih sayang sebagian kepada sebagian lain atas dasar persaudaraan iman, bukan karena sebab yang lain.
  2. Tawaadud , saling menyambung yang akan menumbuhkan rasa cinta di antara semuanya seperti saling mengunjungi dan saling memberi hadiah.
  3. Ta’aathuf, pertolongan sebagian kepada sebagian lain saat ditimpa musibah. Artinya orang-orang beriman, apabila salah satu dari mereka terkena musibah, maka seluruhnya merasakan derita sehingga dengan modal kasih sayang itu semua berusaha menghilangkan musibah darinya serta berusaha mendatangkan kebaikan kepadanya. (Sebaliknya) jika salah satu dari mereka memperoleh kebaikan, maka kebaikan itu seakan menghampiri mereka semua.

= والله يتولى الجميع برعايته =

 

[1] HR.Abu Dawud: 08

[2] Al- Jami ‘as- Shaghir no: 850

[3] HR al-Bukhari dalamal-Adab al-Mufrad

[4] HR al-Bukhari no: 6011 Kitab al-Adab, bab (27) . HR Muslim no: 2586, Kitab al-Birr adalah-Shilat, bab (17)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *