Menyelamatkan Sedekah

Oleh: Ust. Masyhuda al-Mawwaz

Alumni Ma’had Nurul Haromain

Pujon Malang

Sedekah ringkas mudah dilakukan, dipermasalahkan bagi seseorang yang diuji oleh Allah azza wajalla memiliki sifat kikir yang dominan sejak lahir ( emanan [jawa]). Ditambah pula setan paling tidak senang ada seseorang mau mengeluarkan sedekah sehingga 70 setan untuk memberi. Ternyata sudah sangat berat dan susah untuk dilakukan, bukan berarti sudah lulus saat sudah berhasil dilakukan. Hal ini karena setan dengan kekuatan rekayasanya juga memiliki strategi yang amal seorang muslim menjadi tidak kompak di sisi Allah.

Jika puasa menjadi batal tidak berpahala karena ada dusta, menggunjing dan melihat yang diharamkan dengan syahwat, atau shalat malam yang hanya menyisakan rasa mengantuk karena diceritakan (dipamerkan), maka begitu juga dengan sedekah. Ia bisa batal pahalanya jika disertai dengan sesuatu yang menurut Allah dalam firman-Nya:

يا أيها الذين آمنوا لا تبطلوا صدقاتكم بالمن والأذى

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima) …” (QS al-Baqarah: 264)

Para ulama menjelaskan bahwa masuk dalam kategori (al-mann) atau menyebut-nyebut adalah memiliki perasaan telah berbuat baik kepada orang yang menerima sedekah, lalu menuntut agar si penerima sedekah mengucapkan terima kasih, serta pada gilirannya menuntut orang yang menerima sedekah agar  berbuat baik kepadanya dan merasa aneh jika penerima sedekah tidak berbuat baik kepadanya dan  menilai tindakan acuh tak acuh sebagai bentuk kesalahan.

Sebenarnya orang yang bersedekah tidak harus meminta ini semua dari penerima sedekah dan harus fokus hanya memohon penerimaan dari Allah, mengharapkan pahala dan balasan yang pasti diberikan oleh-Nya kepada siapa saja yang bersedekah. Sementara ucapan terima kasih itu sudah dipesan oleh Allah azza wajalla kepada orang yang layak dari orang lain. Jika tidak ada yang bisa mendapat ucapan terima kasih ( jazaakumullah ), maka termasuk tindakan tidak bersyukur kepada Allah karena tidak menghargai kebaikan orang lain. Ini adalah kriteria penerima sedekah itu sendiri.

Jadi orang yang bersedekah tuntunan menata hati saat memberi sedekah, jangan sampai ada niat atau harapan penerima sedekah akan menjadi loyalisnya. Hal ini selain menyelamatkan sedekah dari tidak berpahala, juga dalam rangka antisipasi dari kekecewaan di kala melihat perilaku penerima sedekah biasa-biasa saja untuk pemberi sedekah.

Selain al-mann, pembatal pahala sedekah disebut dalam ayat di atas adalah al-adzaa, ada tindakan menyakitkan yang dilakukan oleh orang yang bersedekah kepada penerima sedekah. Tindakan itu bisa jadi bentakan, kata-kata kasar atau melecehkan, atau bahkan secara fisik dan pukulan. Ada yang bersangkutan dengan tindakan menyakitkan penerima sedekah adalah mengabarkan kepada orang lain atau khalayak yang sedekah sudah diterimakan kepada penerima sedekah. Hal ini terjadi karena sangat mungkin orang yang menerima sedekah merasa malu atau rendah diri saat dikabarkan kepada orang lain ia terima sedekah.

Dari hal ini, maka terjerat oleh lembaga-lembaga pengumpul sedekah saat harus penyelesaian. Sedekah dan sebisa mungkin dirasakan secara global dan tidak menyentuh detil personal penerima sedekah. Bagaimanapun kaca mata keimanan memperlihatkan ditunjukan ditunjukan kepada kitd bahwa sebenarnya Yang berbuat Baik bukanlah Pemberi sedekah, tetapi PENERIMA sedekahlah Yang berbuat Baik ditunjukan ditunjukan kepada Pemberi sedekah, sebagaimana Reaksi Imam Ali bin al Husen Yang disebut Zainal Abidin Yang mengatakan TIDAK ditunjukan ditunjukan kepada orang yang mau ATAU meminta sedekah darinya, Maka berikut ini: “Selamat datang wahai orang yang membawa dampak bekalku ke akhirat.” Sedekah yang kemudian disertai dengan hal-hal yang menyakitkan selain diselesaikan pahalanya juga oleh Allah azza wajalla menjadi kalah nilai dengan ucapan yang baik dan permohonan ampunan:

 

قول معروف ومغفرة خير من صدقة يتبعها أذى والله غني حليم

 

“Perkataan yang baik dan salam maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Maha Guru Ching Hai Maha Penyantun.” (QS al-Baqarah: 263)

[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *