Ciri-ciri Munafik Q.S. al-Hadid:14

 

Oleh : KH. M. Ihya Ulumiddin

Pengasuh Ma’had Nurul Haromain

Pujon Malang

 

Allah Uberfirman:

 

يُنَادُوْنَهُمْ أَلَمْ نَكُنْ مَّعَكُمْ قَالُوْا بَلَى وَلٰكِنَّكُمْ فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ حَتَّى جَاءَ أَمْرُ اللهِ وَغَرَّكُمْ بِاللهِ الْغَرُوْرُ

“Orang-orang munafik memanggil orang-orang mukmin, Bukankah kami dahulu bersama kamu? Mereka menjawab, Benar, tetapi kamu memfitnah dirimu sendiri, dan kamu hanya menunggu (kekalahan kami), meragukan (janji Allah), dan ditipu oleh angan-angan kosong sampai datang ketetapan Allah; dan penipu (setan) datang memperdaya kamu tentang Allah’.

 

Analisa Ayat

Barangkali hari ini antara orang baik dan buruk tidak mengalami nasib yang berbeda. Barangkali sekarang ini orang yang giat bekerja dan pemalas tetap dalam kondisi yang sama. Atau orang jujur dan pembohong tidak dibedakan dan semuanya mendapatkan perlakuan yang sama. Akan tetapi akan tiba masa di mana sangat berbeda antara orang baik dan buruk, sangat jauh lebih baik nasib orang yang giat daripada orang pemalas dan juga akan tiba masa di mana pembohong akan tersingkir dan orang yang jujur akan eksis bertahan.

Pelajaran ini bisa diambil dari perbandingan antara nasib orang-orang beriman dan orang-orang munafik. Sewaktu di dunia, mereka mendapatkan perlakuan sama dari Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya, tetapi kelak di akhirat saat melintasi shirath (jembatan yang terbentang antara dua sisi neraka) terjadilah kondisi di mana orang-orang beriman mendapati cahaya terang di depan dan sebelah kanan mereka. Sementara orang-orang munafik mendapati keadaan gelap gulita. Mereka sama sekali tidak memiliki cahaya. Inilah kondisi seperti dikabarkan oleh Allah subhanahu wata’ala dalam firman-Nya: “Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang beriman: Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahayamu”. Dikatakan kepada mereka: “Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya…”[1]

 

Pada ayat 14 dari Q.S. al-Hadid ini kemudian disebutkan perjuangan orang-orang munafik kala itu, yaitu dengan mengatakan: “Bukankah kami dahulu bersama kamu?” Maksudnya sewaktu di dunia mereka merasa bersama orang-orang beriman dalam shalat berjamaah, shalat Jum’at, berhaji, dan berperang bersama. Selanjutnya protes mereka ini dijawab oleh orang-orang beriman bahwa mereka dulu memang bersama-sama, akan tetapi ada hal-hal sangat buruk yang dilakukan oleh orang-orang munafik sehingga pada hari ini mereka harus kehilangan cahaya dan berada dalam gelap-gulita. Hal-hal buruk yang disebutkan dalam ayat inilah yang menjadi ciri khas orang-orang munafik sepanjang zaman yang harus diwaspadai oleh orang-orang beriman, selain ciri-ciri yang juga disebutkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam sabda-sabdanya.

Atau pada sisi lain, hal-hal buruk ini harus berusaha ditinggalkan atau dihindari oleh kita orang-orang beriman agar keimanan kita benar-benar bersih dari kemunafikan. Hal tersebut adalah:

  1. Memfitnah diri sendiri

Artinya menenggelamkan diri dalam kelezatan-kelezatan dunia sehingga seringkali terjatuh dalam kemaksiatan-kemaksiatan.

  1. Menunggu kekalahan umat Islam(tarabbush)

Artinya orang-orang munafik mengharapkan segera datang saat-saat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam wafat. Mereka juga senang dan bahkan berusaha agar umat Islam ditimpa bencana-bencana dan segala perkara yang membuat susah (ad-dawaa’ir) sebagaimana dalam firman Allah subhanahu wata’ala:

وَمِنَ الْأَعْرَابِ مَنْ يَتَّخِذُ مَا يُنْفِقُ مَغْرَمًا وَيَتَرَبَّصُ بِكُمُ الدَّوَائِرَ  عَلَيْهِمْ دَآئِرَةُ السَّوْءِ وَاللهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ

“Dan di antara orang-orang Arab (Badwi) itu, ada orang-orang yang memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) sebagai satu kerugian, dan dia menanti-nanti marabahaya menimpamu; merekalah yang akan ditimpa marabahaya. Dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.”[2]

  1. Meragukan janji Allah

Orang-orang munafik ragu akan janji-janji Allah dan meragukan akan adanya hari kebangkitan. Dalam konteks terkini, di antara orang-orang yang ragu dengan janji Allah adalah mereka yang teracuni pemikiran liberal, yaitu pemikiran yang berpijak pada kebebasan masing-masing pribadi untuk berpikir dan bertindak secara bebas atas nama hak individu, tak boleh ada yang melarang karena itu membatasi kebebasan. Pemikiran seperti ini sekilas begitu indah, tetapi sebenarnya akan membawa manusia untuk tidak mau memperhatikan dan mengindahkan hukum-hukum Allah subhanahu wata’ala.

  1. Tertipu oleh angan-angan kosong (al-amaani)

Angan-angan kosong itu adalah panjang angan-angan (thulul amal).Mereka ditipu oleh kehidupan dunia yang sirna, dan merasa tidak melakukan kesalahan meski perbuatan mereka seringkali menyengsarakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan kaum muslimin sehingga dengan seenaknya mengatakan apa yang mereka lakukan kelak akan mendapatkan pengampunan.

…وَيَقُوْلُوْنَ سَيُغْفَرُ لَنَا…

“…dan mereka mengatakan: ‘Kami akan diberi ampunan.’…”[3]

Ucapan ini menggambarkan betapa mereka merasa aman dan nyaman dengan tindakan dan sepak terjang mereka. Mereka inilah orang-orang yang tertipu (maghrur). Mereka menipu Allah, maka Allah pun menipu mereka. Dan kondisi ini terus akan berlangsung sampai datang urusan Allah, yaitu kematian mereka atau kemenangan yang pasti diraih oleh kaum muslimin.

Jika orang-orang munafik terdahulu terjangkit penyakit ghurur, sebuah penyakit yang berupa ketenangan jiwa pada sesuatu yang selaras dengan hawa nafsu dan menjadi kecenderungan watak, pada sekarang ini penyakit ghurur juga menjangkiti beberapa kelompok:

  1. Para ahli maksiat (al-Ushaat) dan para pendosa (al-Fussaaq)

Dikatakan kepada Imam Hasan al-Bashri: “Ada kaum yang mengatakan kami berharap rahmat kepada Allah. Sedang mereka menyia-nyiakan amal?” Beliau berkata: “Jauh, jauh. Itu hanyalah angan-angan di mana mereka bermimpi di dalamnya. (Sebab) barang siapa mengharap sesuatu, maka ia pasti mencarinya. Barang siapa yang takut akan sesuatu, maka pasti lari darinya.”

Dan terkadang poros harapan mereka itu adalah berpegang (mengandalkan) keshalihan dan ketinggian derajat orang-orang tua mereka (meski) mereka juga mengetahui bahwa Nabi Nuh alaihisslam tidak bisa memberi manfaat (apapun) kepada puteranya, Nabi Luth alaihisslam tidak bisa memberi manfaat kepada isterinya, Nabi Ibrahim alaihisslam tidak bisa memberikan manfaat kepada ayahnya, dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga tidak bisa memberikan manfaat kepada pamannya.

  1. Orang-orang berilmu dan para cendekiawan

Di antara mereka ada orang-orang yang sangat profesional dalam urusan-urusan syariat dan ilmu-ilmu logika. Mereka sangat mendalami dan sibuk secara total di dalamnya. (Akan tetapi) mereka melupakan hal (penting) yang bisa membersihkan diri mereka yang berupa membiasakan diri dalam ketaatan-ketaatan,dan menghidupkan sunnah-sunnah nabawiyyah, (kendati begitu) mereka menyangka telah memiliki kedudukan di sisi Allah.

Di antara mereka juga ada orang-orang yang profesional dalam berilmu dan beramal. Mereka konsisten dalam ketaatan-ketaatan yang zhahir, hanya saja mereka lupa tidak meneliti secara teliti hati mereka (barangkali) ada sifat-sifat tercela yang merusak seperti iri hati, pamer, mencari kekuasaan, popularitas, dan sebagainya.

  1. Kelompok ekstrim

Dengan segala tanda yang ditemukan pada mereka dan ciri yang menjadikan mereka berbeda (bisa dipastikan bahwa) mereka adalah kaum Khawarij masa kini sebagaimana ditunjukkan oleh hadits-hadits (Rasulullah shallallahu alaihi wasallam).

Tanda dan ciri tersebut di antaranya adalah:

  1. Mencela dan menyatakan kesesatan mayoritas kaum muslimin. Ciri seperti ini sungguh telah muncul semenjak masa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam sikap Dzul Khuwaishirah at-Tamimi kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan sikap kaum Khawarij kepada para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
  2. Berburuk sangka kepada kaum muslimin dan melecehkan jamaah (komunitas) di luar mereka.
  3. Bertindak terlalu dalam beribadah dan menghidupkan sunnah seraya berbangga diri atas nama mencari kemuliaan agama, menampakkan kemuliaan ilmu, menolong agama Allah, dan merendahkan orang-orang yang tidak sepaham yang menurut mereka adalah para ahli bid’ah.
  4. Bersikap keras kepada kaum muslimin dengan mengkafirkan dan (bahkan) memerangi. (Tetapi justru) mereka membiarkan saja para penyembah berhala.
  5. Kurang pengetahuan dan lemahnya wawasan mereka akan kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya rshallallahu alaihi wasallam disebabkan buruk pemahaman, kurang bertadabbur, sedikit berpikir, dan tidak menempatkan nash sesuai tempatnya yang benar karena ilmu mereka yang sedikit dan lemahnya nalar Istinbath (kesimpulan hukum) mereka.
  6. Sungguh mereka adalah kaum yang muda usia dan berpikiran negatif. Artinya mereka adalah angkatan muda yang negatif cara berpikirnya. Hal ini menuntun kita pada sebuah kesimpulan akan urgensi melakukan langkah memperbaiki cacat-cacat usia muda ini dengan cara meneguhkan hati untuk bisa bersikap santun, penuh pertimbangan dan mencari petunjuk kepada orang-orang berilmu, para ahli dan orang-orang yang sudah berpengalaman, terkait hal yang masih mengandung problema.

 

5. Melalaikan Allah sama sekali karena dikuasai oleh setan yang sangat pandai menipu dan memiliki banyak sekali tipuan-tipuan. Akhirnya segala hal yang mereka lakukan adalah keburukan-keburukan meski terkadang berwujud amal-amal kebaikan.

Hal-hal buruk di atas dilakukan dan dialami oleh orang-orang munafik pada zaman Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan juga akan senantiasa dilakukan oleh orang-orang munafik di zaman ini. Seorang mukmin harus belajar untuk tidak meniru perilaku mereka. Artinya seorang mukmin tidak boleh terlena dalam kelezatan dan kenikmatan dunia yang tidak jarang menyeret seseorang ke lembah maksiat. Seorang mukmin juga harus menghilangkan perasaan senang jika orang lain sesama muslim ditimpa bencana dan mengalami musibah. Seorang mukmin juga harus belajar meyakini akan hari akhir dan janji-janji Allah berupa pahala sebagai balasan kebaikan dan dosa atau siksa sebagai balasan kemasiatan. Seorang mukmin tidak boleh terbius oleh angan-angan panjang dan keinginan-keinginan duniawi yang tidak berkesudahan di mana satu keinginan tercapai, maka akan muncul banyak lagi keinginan yang baru. Dan seorang mukmin harus selalu ingat peringatan Allah bahwa setan adalah musuh manusia yang nyata dan harus diwaspadai dan diantisipasi serangannya dengan banyak berdzikir kepada Allah subhanahu wata’ala.

Seorang ulama mengatakan:

إِنَّ لِلْبَاقِي بِالْمَاضِي مُعْتَبَرًا وَلِلْآخِرِ بِالْأَوَّلِ مُزْدَجَرًا . وَالسَّعِيْدُ مَنْ لَا يَغْتَرُّ بِالطَّمَعِ وَلَا يَرْكَنُ إِلَى الـْخُدَعِ . وَمَنْ ذَكَرَ الْمَنِيَّةَ نَسِيَ الْأُمْنِيَّةَ . وَمَنْ أَطَالَ الْأَمَلَ نَسِيَ الْعَمَلَ وَغَفَلَ عَن ِالْأَجَلِ

Sesungguhnya ada pelajaran bagi orang yang tersisa dari orang yang telah lewat. Ada hal dari orang terdahulu yang bisa menjadi kontrol diri bagi orang terkini. Orang beruntung adalah orang yang tidak tertipu oleh harapan kepada manusia (thama’) dan tidak pula condong kepada tipuan-tipuan. Barang siapa yang mengingat kematian, maka akan melupakan keinginan. Barang siapa memperpanjang angan, maka pasti lupa beramal dan melalaikan kematian.[4]

=والله يتولي الجميع برعايته=

[1]Q.S. al-Hadid:13

[2]Q.S. at-Taubah:98

[3]Q.S. al-A’raaf:169

[4]LihatTafsir al-Qurthubi,tafsir Q.S. al-Hadid:13-15

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *