KH Muhammad Utsman Al-Ishaqy Berdakwah Melalui Thariqah

Fakta tentang Islam di Indonesia sangat luar biasa. Dari sebelumnya belum mengenal Islam menjadi negara dengan populasi muslim terbesar di dunia. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari pola dakwah para ulama penyebar Islam yang menggunakan pendekatan tasawuf . Hal ini terbukti dapat memikat hati bangsa indonesia, sehingga umat Islam di indonesia sangat akrab dengan dunia tasawuf. Dalam tasawuf, dikenal juga istilah thariqah , yaitu sebuah metode yang lebih untuk mengenal dan mendekatkan kepada Allah dengan cara tertentu yang diajarkan oleh para guru pembimbing mereka yang oleh para ulama dunia akan kapasitasnya sebagai pembimbing umat.

Ada puluhan thariqah yang sedang berkembang di dunia Islam, di mana juga berkembang di indonesia. Di antara puluhan thariqah yang ada, salah satu yang berkembang pesat di indonesia adalah thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah . Thariqah ini tersebar berkat para mursyid mereka. Beberapa mursyid thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah dalam kurun ini yang terbesar di dunia, Abah Anom Suryalaya, KH Romli Tamim Rejoso Jombang, KH Utsman Surabaya, dan lainnya. Mereka semua telah wafat, dan estafet kepemimpinan thariqah diteruskan oleh anak or murid mereka. Kali ini kita coba untuk mengenal lebih dekat sosok KH Utsman al-Ishaqy. Beliau seorang ulama yang shalih dan kharismatik dari Surabaya.

Nama lengkap beliau adalah Muhammad Utsman. Beliau lahir di Jatipurwo Surabaya, pada hari Rabu bulan Jumadil Akhir tahun 1334 H. keistimewaannya sudah tampak sewaktu Utsman masih kecil. Sejak usia 3 tahun, hampir setiap hari ia tidur di surau, ditemani oleh kakek dari ibu, kiai Abdullah. Menginjak usia 4 tahun, jadilah kesehariannya untuk shalat shubuh di masjid Ampel. Dengan diantar kakaknya, dia selalu menuju masjid sejak pukul 3 pagi sampai waktu shubuh. Sebuah kebiasaan yang tidak lazim bagi anak yang masih sangat kecil seusia dia.

Pada usia 7 tahun, beliau sudah menghatamkan al-Qur’an 3 kali kepada kakek dia. Setelah itu, menimba ilmu ke ulama lain, dioperasi Kiai Adro’i Nyamplungan, menimba ilmu di madrasah Taswirul Afkar dan pulang setelah jam 10 pagi. Rutinitas ini beliau jalani setiap hari.

Karena pertolongan Allah, baiklah selalu terjaga sejak usia remaja. Sesuai penuturan KH Asrori, putra beliau, beliau pernah mengaku:   “Pada saat saya masih kecil, suatu hari saya bernafsu di mana mau makan. Maka saya pun makan sekenyang-kenyangnya. Aku dan aku juga menceritakan:  “Pada suatu hari saya menangisi diri saya sendiri, karena saat saya shalat teringat layang-layang, saya sudah berumur 12 tahun. Berarti 3 tahun lagi saya sudah baligh dan mukallaf. Bagaimana kalau saya masih ingat pada layang-layang pada waktu shalat ?! “ Sungguh sebuah teladan lurus yang teramat jarang kita dapati pada anak zaman sekarang.

Pada usia ke 13, Kiai Utsman mengalami kejadian yang tidak terlupakan. Suatu saat beliau melihat Ka’bah di Makkah dalam keadaan sadar. Beliaupun mengusap mata berkali-kali, namun ka’bah tetap saja terlihat. Khawatir ada suatu hal yang tidak beres dengan penglihatannya, maka dia minta dibelikan kacamata. Akankah, hasilnya tetaplah sama, Ka’bah di Makkah terlihat di pelupuk mata. Inilah yang menjadi salah satu tanda Kiai Utsman adalah sosok yang istimewa. Ia adalah orang shalih yang dicintai Allah. Dan memang di kemudian hari, Kiai Utsman menjadi sosok ulama yang menjadi sandaran umat.

***

Menginjak usia dewasa, Kiai Utsman menyibukkan diri dengan pengembaraan ilmu. Antara lain, beliau menimba ilmu kepada Kiai Khozin Panji, kemudian ke Kiai Munir Jambu Madura. Beberapa waktu di Madura, dia sakit pulang ke Surabaya. Setelah sembuh, orang tuanya mengirimnya ke Tebuireng, nyantri kepada Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Selanjutnya dia dikirim ke pesantren Rejoso ke Kiai Romli Tamim. Di bawah asuhan Kiai Romli inilah, Kiai Utsman merasakan hubungan yang sangat kuat dengan gurunya tersebut. Sampai pada suatu hari, Kiai Romli mengangkat Kiai Utsman menjadi seorang mursyid thariqah .

Kiai Utsman sangat menjaga adab terhadap semua orang, terlebih pada guru beliau. Bahkan di antara adab itu, beliau menghadap gurunya dari Surabaya ke Jombang dengan jalan kaki pakai klompen . Pernah pernah pula memiliki hajat untuk sowan kepada Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf Gresik, dan dia berjalan kaki dari Surabaya ke Gresik dengan memakai klompen .

Atas perintah gurunya pula, dia pindah-pindah dari Jombang, kemudian ke Ngawi, dan kembali ke Surabaya, di mana dia selalu hadir ilmu. Semuanya beliau lalui demi wahyu guru yang amat ia cintai.

Karena kegemarannya kepada para wali, lebih-lebih kepada Syaikh Abdul Qodir al-Jailani, beliau rutin menyelenggarakan majlis manakib . Di rumah dia sendiri, kemudian menyebar ke beberapa daerah lainnya. Hingga saat ini, kegiatan manakib sudah menjadi kebiasaan masyarakat.

Dia adalah figur ulama yang selalu matahari sunnah sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam. Dia juga gemar berziarah kepada para wali, baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat.

Kiai Utsman adalah teladan dalam keistiqamahan. Dia tidak pernah meninggalkan shalat jama’ah. Bahkan dalam keadaan sakit dan diinfus pun, berikut tetap shalat berjama’ah.

Sebagai seorang mursyid thariqah, sukses tongkat estafet yang diamanahkan oleh guru beliau, KH Romli Tamim, beliau selalu sibuk mengurusi umat. Sebuah amanat yang sangat berat. Akankah ketulusan untuk taat kepada sang guru menjadikannya dengan sendirinya bisa terangkat.

Kiai Utsman telah membimbing ribuan orang ke dalam thariqat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah, hingga mewujudkan thariqah ini salah satu yang terbesar di indonesia. Kontribusinya dalam syiar Islam tentu saja bagi umat manusia.

Beliau wafat pada 5 Rabiul Tsani 1404 H yang bertepatan dengan 8 Januari tahun 1984 M setelah beberapa hari dirawat di RSI Surabaya. Beliau dimakamkan di pondok sepuh, Jatipurwo, Semampir Surabaya. Dan estafet kepemimpinan diteruskan oleh putra beliau KH Ahmad Asrori al-Ishaqi.

Semoga sepenggal kisah hidup dapat menambah kecintaan kita kepada para ulama shalihin.

[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *