“TAKWA” KUNCI TERBUKANYA PINTU REZEKI

Oleh: Arikha Faizal Ridho

 (Santri Pesantren Mahasiswa Baitul Hikmah)

 

Suatu sore di Pesantren Mahasiswa Baitul Hikmah saya sedang mendengarkan beberapa ceramah ulama’ di situs “Youtoube”. Salah satu ceramah yang cukup menarik adalah ceramah dari Habib Umar bin Hafidz. Dalam video tersebut beliau mengutip cerita dari Syekh Sya’rawi.

Pada satu kajian Syekh Sya’rawi, ada hadirin yang bertanya. Hadirin tersebut menceritakan bahwa dia saat ini bekerja pada tempat yang menjual barang-barang syubhat. Syekh Sya’rawi menjawab: “Keluarlah dari pekerjaan tersebut. ”Orang itu kembali bertanya: “Aku masih memiliki banyak hutang dan aku masih memiliki keluarga yang perlu dinafkahi, bagaimana itu?” Syekh Sya’rawi menimpali: “Wahai anakku, Allah berfirman: ‘Barang siapa yang bertakwa kepada-Nya niscaya akan diberi jalan keluar.’” Syekh Sya’rawi bertanya, “Allah menyebutkan takwa dulu atau jalan keluar dulu?” Syekh melanjutkan, “Engkau kerja ditempat yang tidak baik dan berharap jalan keluar? Dahulukan takwa, baru nanti akan datang jalan keluarnya. Keluarlah! ”Orang itu menjawab, “Baiklah, saya keluar.” Alkisah, Habib Umar menceritakan bahwa akhirnya pemuda tersebut mendapatkan pekerjaan baru dengan gaji yang jauh lebih baik. Bahkan dia dipindahkan ke Madinah dekat masjid Nabawi. Akhirnya, pemuda tersebut dapat memperbaiki diri dan hutangnya lunas.

***

Kisah tersebut mengingatkan kondisi di kampung halaman di Blitar. Sebagian besar mata pencaharian dikampung saya adalah pembuat gula kelapa. Perajin gula kelapa akan memanjat pohon kelapa untuk mengambil nira yang selanjutnya akan dimasak menjadi gula. Dikampung ada beberapa tipe penderes kelapa jika dilihat dari ketakwaan agamanya. Ada tipe penderes kelapa yang giat bekerja hingga melupakan kewajiban agama. Pada tipe ini ada penderes yang sangat giat memanjat pohon kelapa hingga sehari bisa memanjat lebih dari 50 pohon. Sebagian besar waktunya dihabiskan dikebun kelapa mulai pagi sampai dinihari. Bahkan dia rela melupakan kewajiban agamanya seperti shalat lima waktu serta rela mengabaikan kewajiban lingkungan seperti menghadiri undangan tahlil dari tetangga. Tentu harapan dari penderes tipe ini adalah dia ingin cepat mendapatkan kekayaan dunia dan dapat hidup bahagia dengan kekayaan tersebut. Namun, apalah daya kenyataan berkata lain. Penderes tersebut ternyata tidak juga menjadi kaya, bahkan boleh dibilang kehidupannya menjadi semrawut dan dikejar-kejar rentenir.

Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan yang dialami penderes yang taat beragama. Berdasarkan pengamatan saya, ada beberapa penderas yang hanya memanjat 20 pohon dalam sehari. Namun, diluar kesibukannya di kebun dia masih menyempatkan diri untuk menghadiri panggilan Allah untuk shalat jama’ah di masjid. Selain itu, dia masih menyempatkan diri untuk mengajarkan agama kepada anak-anak, ditambah lagi dengan aktif  pada kegiatan kemasyarakatan di kampung. Namun, keberkahan hidup diberikan oleh Allah pada tipe penderes ini. Meskipun secara logika penghasilannya sedikit, namun terlihat bahwa hidupnya lebih tenang, lebih bahagia, bahkan dengan penghasilannya dapat mengantarkan anak-anaknya ke bangku perguruan tinggi.

Kedua kisah diatas menegaskan pentingnya ketakwaan dalam menjalani hidup. Ketakwaan dalam segala hal dan dalam segala bidang. Ketakwaan dan keimanan kepada Allah harus dibawa kemanapun kita berada, baik dikampus, dikantor, dipasar, maupun dirumah. Saking pentingnya ketakwaan, setiap hari jumat kita senantiasa diingatkan khatib untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Habib Umar bin Hafidz pada akhir video diatas menegaskan, “Dahulukan takwa, baru nanti akan datang jalan keluar. Engkau ingin jalan keluar sedang engkau masih bermaksiat, bagaimana engkau ini?”

[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *