Fadhilah Banyak Mengingat Maut

Oleh: Muhim Kamaluddin

Imam al-Ghazali dalam karya beliau Attibrul Masbuk Fi Nashihatil Muluk, menukil sebuah kisah yang diriwayatkan oleh Wahab bin Munabbih. Di suatu masa di sebuah kerajaan diantara silih bergantinya kekuasaan di dunia ini, ada seorang raja agung yang berencana untuk mengadakan sebuah parade besar-besaran untuk menunjukkan kebesaran kerajaannya kepada rakyat dan juga bangsa asing. Pada waktu yang sudah direncanakan, sang raja keluar dari istananya dan memerintahkan seluruh pembesar kerajaannya untuk keluar mengikuti parade dengan memamerkan kebesaran mereka. Dengan naik kuda yang dihias sedemikian rupa, mereka berjalan pelan untuk menampakkan wibawa. Di sepanjang jalan, rakyat telah menanti dan mengelu-elukan sang raja dan pembesar lainnya. Sorak-sorai masyarakat begitu ramai. Suasana jalanan yang dilewati oleh parade kerajaan begitu meriah.

Sang raja menghiasi kuda tunggangannya dengan berbagai macam perhiasan, batu permata, zamrud, mutiara, dan berbagai perhiasan lainnya. Nampaklah sang raja diatas kuda tunggangannya dengan begitu gagah dan berwibawa. Mengikuti dibelakangnya, para pembesar kerajaan dan para tentara berkuda berbaris memanjang dengan memamerkan perbendaharaan kerajaan.

Diantara para tentara kerajaannya, kuda tunggangan raja terlihat paling menonjol. Kuda dengan perhiasaan paling indah dan jalannya yang paling anggun. Sang raja kemudian menghentak tali kekang tunggangannya dan kuda pun berlari, berputar, dan berlari lagi dengan indahnya diantara barisan tentara dan mengundang kekaguman orang-orang yang melihatnya.

Kemudian datanglah iblis dan meniupkan hawa kesombongan kepada sang raja, sehingga raja berkata dalam hatinya: “Siapa di duniaini yang bisa menandingiku?” Maka ia pun memacu kudanya dengan penuh lagak lagi sombong. Kesombongannya itu membuatnya tidak memandang kepada seorangpun di sekitarnya.

Hanya saja, ia tiba-tiba terkejut, demi melihat seseorang lelaki asing dengan pakaian kumal yang tiba-tiba tanpa ia tahu dari mana datangnya, sudah berada disampingnya. Orang asing itu mengucap salam atasnya. Namun ia tidak menjawab salam dari lelaki yang mengagetkannya itu.  Kemudian orang misterius itu memegang tali kendali kuda. Sang raja menegurnya: “Lepaskan tanganmu dari tali kendali kuda, karena engkau tidak mengerti cara mengendalikan kuda tungganganku.

Orang asing itu pun berkata, “Aku ada perlu denganmu.” Sang raja menjadi gusar, sebab tidak ada tanda canggung samasekali pada lelaki yang berdiri dihadapannya. Sebaliknya di dalam dadanya tiba-tiba tercekat sebuah ketakutan. “Sebutkan hajatmu!” jawab sang raja. “Sesungguhnya ini rahasia, tidak akan aku katakan kecuali aku membisikkannya di telingamu,” jawab orang asing itu.

Maka sang raja merundukkan tubuhnya agar bisa mendengar bisikan orang itu, sedang ia sendiri masih diatas kuda tunggangannya. Barulah orang itu berkata, “Sesungguhnya aku adalah malaikat maut, aku hendak mencabut ruhmu.

Seketika wajah sang raja menjadi pucat pasi. Dengan kata yang sedikit tertahan, ia memohon kepada malaikat maut, “Beri aku waktu untuk kembali kerumahku (istana), agar aku bisa berpamitan kepada anak-anak dan istriku. ”Malaikat maut menjawab, “Tidak bisa, engkau tidak akan kembali untuk melihat mereka selamanya, karena engkau sungguh telah menyia-nyiakan umurmu.” Maka seketika itu, malaikat maut mencabut nyawa raja, sedang ia masih berada diatas punggung kuda dan ia pun tersungkur dalam keadaan tanpa nyawa.

Kemudian malaikat maut pergi dari tempat tersebut dan mendatangi seorang hamba yang shalih yang telah diridhai Allah. Malaikat mautpun mengucap salam kepada hamba yang shalih itu, dan sang hamba pun membalas salamnya dengan penuh penghayatan. Malaikat maut itu berkata: “Aku ada perlu denganmu, dan ini rahasia.

Maka sang hamba yang shalih itu berkata, “Sebutkanlah keperluan rahasiamu itu di telingaku,” sembari ia mendekatkan telinganya kepada lelaki di depannya yang tak lain adalah malaikat maut. “Aku malaikat maut,” ucapnya.

Seketika wajah hamba yang shalih itu berbinar, “Marhaban, selamat datang atasmu. Alhamdulillah Anda sudah datang .Sungguh aku menanti kehadiran Anda. Anda terlalu lama menghilang. Sungguh aku rindu akan kedatanganmu.

Malaikat maut berkata, “Jika engkau masih ada kesibukan, selesaikanlah.

Maka sang hamba itu menjawab, “Bagiku, tidak ada kesibukan yang lebih penting dari pada bertemu dan menghadapTuhanku Azza wajalla.”

“Bagaimana keadaan yang kau inginkan saat aku cabut ruhmu?tanya malaikat maut.

Hamba itu menjawab, “Sesungguhnya aku diperintah untuk bersujud, maka cabut nyawaku dalam keadaan sujud.”

Kemudian malaikat maut memenuhi keinginan hamba tersebut dan iapun berpindah kepada rahmat Allah azza wajalla.

Lantas Imam al-Ghazali menasihatkan:

“Ketahuilah wahai para penguasa (dan juga para pemuja dunia) bahwa manusia ada dua macam. Kelompok pertama adalah manusia yang melihat gemerlapnya dunia dan mereka berangan-angan mendapat umur yang panjang. Dan kelompok kedua adalah manusia yang berakal, yaitu orang yang menjadikan napas terakhirnya sebagai bagian yang mampu menolong mereka untuk dapat melihat dimana tempat kembalinya kelak (surga atau neraka), dan bagaimana mereka keluar dan berpisah dari dunia dalam keadaan selamat imannya. Mereka mengetahui apa saja (amal) di dunia yang ikut bersama mereka kedalam kubur.”

Kedatangan sesosok makhluk yang bernama Izrail adalah pasti. Izrail hanya mengincar nyawa. Sementara manusia berharap bahwa ia (Izrail) mau mengambil harta, keluarga, tahta, atau kerajaannya. Tetapi tidak. Ia (Izrail) hanya mengambil nyawa.

Ketahuilah, bahwa orang-orang yang lalai, mereka tidak suka mendengar berita atau hadits tentang maut, supaya cinta mereka kepada dunia tidak membeku, supaya tidak tercekat lezatnya makanan mereka. Sungguh telah datang khabar bahwa orang yang banyak mengingat mati dan gelapnya kubur, kelak kuburnya menjadi taman diantara tetaman surga. Dan siapa yang melupakan kematian dan lalai dari mengingat maut, maka kuburnya kelak menjadi lubang diantara lelubang neraka.

Suatu hari, Rasulullah saw menggambarkan pahala para syuhada’ yang mana mereka berperang dalam pertempuran melawan kaum kafir. Maka bertanyalah sayyidah ‘Aisyah: “Wahai Rasulullah, apakah bisa orang yang bukan  syahid, tapi mendapat pahala syuhada’? ”Rasul menjawab,

مَنْ ذَكَرَ الْمَوْتَ فِي كُلِّ يَوْمِ عِشْرِيْنَ مَرَّةً كَانَ لَهُ مِثْلُ اَجْرِ الشُّهَدَاء وَدَرَجَتِهِمْ

“Orang yang mengingat mati sebanyak duapuluh kali setiap hari, maka ia mendapat pahala dan derajat para syuhada’.”

Dan Rasulullah saw bersabda:

اَكْثِرْ مِنْ ذِكْرِ الْمَوْتِ فَاِنَّهُ يَمْحُو الذُّنُوْبَ وَيُبَرِّدُ الدُّنْيَا فِي الْقُلُوْبِ

“Perbanyaklah mengingat mati, sesungguhnya ia menghapus dosa dan mendinginkan (keinginan) dunia di dalam hati.”

Wallahu a’lam bisshawaab.

[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *