Guru Para Dermawan

Oleh : Ust. Masyhuda al-Mawwaz

Manusia yang paling taqwa dan paling banyak ilmunya adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Lalu siapakah manusia yang paling dermawan? Jawabannya adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Hal ini berdasarkan kesaksian Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhu: “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah manusia yang paling dermawan, dan lebih dermawan lagi ketika bulan Ramadhan…Jika Jibril datang, maka beliau menjadi lebih dermawan daripada angin yang bertiup kencang.”[1]

Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhu juga memberikan kesaksian bahwa: “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak dimintai apapun lalu menjawab tidak.” Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata: “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak dimintai apapun kecuali pasti memberikannya.”[2]

Suatu ketika seseorang datang dan meminta agar kambing-kambing yang memenuhi lembah antara dua bukit itu diberikan kepadanya. Maka permintaan itupun dengan sangat mudah dikabulkan, sehingga orang tersebut segera datang kepada kaumnya dan mengatakan: “Hai kaumku, masuklah kalian ke dalam Islam, karena sesungguhnya Muhammad benar-benar bisa memberi pemberian seperti seorang yang sama sekali tidak khawatir akan kemiskinan.”[3]

Dalam kondisi susah pun beliau tetap bisa memberi, terutama jika ada permintaan.  Sahl bin Saad radhiyallahu anhu menceritakan tentang seorang wanita yang datang membawa hadiah sebuah baju bermotif baris-baris: “Wahai Rasulullah, baju ini saya sendiri yang menenun khusus agar engkau memakainya.” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pun menerima hadiah itu, karena memang beliau sedang membutuhkan. Akan tetapi tidak lama kemudian seorang lelaki berkata: “Wahai Rasulullah, baju ini sangat bagus. Berikanlah kepadaku!” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pun mengiyakan. Setelah beliau pergi, para sahabat menegur: “Anda berlaku kurang baik ketika meminta baju yang dipakai oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, padahal beliau sedang membutuhkan. Sementara beliau tidak pernah menolak permintaan!” Lelaki itu menjawab: “Ketika baju ini dipakai Rasulullah, maka aku berharap mendapat berkahnya ketika kelak baju ini menjadi kafanku.”[4]

Suatu ketika seseorang datang mengajukan permintaan, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang kebetulan tidak memiliki sesuatu yang bisa diberikan bersabda:

مَا عِنْدِيْ شَيْءٌ وَلكِنِ ابْتَعْ عَلَيَّ فَإِذَا جَاءَنِيْ شَيْئٌ قَضَيْتُهُ

“Aku tidak memiliki sesuatu yang bisa kuberikan padamu. Tetapi belilah sesuatu dengan tempo. Lalu jika sudah ada sesuatu yang datang, maka aku akan membayarnya.

 

Umar radhiyallahu anhu berkata: “Wahai Rasulullah, engkau masih memberinya, sementara Allah tidak memaksa engkau sesuatu yang tidak ada kemampuan?!” Nabi shallallahu alaihi wasallam pun merasa tidak suka dengan ucapan Umar ini sehingga seorang lelaki Anshar berkata:

يَارَسُوْلَ اللهِ أَنْفِقْ وَلَا تَخَفْ مِنْ ذِي الْعَرْشِ إِقْلَالًا

“Wahai Rasulullah, teruslah berinfak dan jangan khawatir Allah Pemilik Arasy mengurangi (rizki)!”

Kalimat ini menjadikan wajah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tersenyum dan lalu bersabda: “Dengan seperti inilah aku diperintahkan.[5]

 

Kedermawanan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tergambar pula dari sabda beliau:

أَعْطُوْنِيْ رِدَائِي لَوْ كَانَ لِيْ عَدَدُ هذِه الْعِضَاهِ نَعَمًا لَقَسَمْتُهُ بَيْنَكُمْ ثُمَّ لَا تَجِدُوْنِي بَخِيْلًا وَلَا كَذُوْبًا وَلَا جَبَانًا

“Berikanlah selendangku, andai saja pepohonan berduri ini seluruhnya adalah herwan ternak, maka pasti aku membagikanya kepada kalian. Kemudian kalian tidak akan mendapati diriku sebagai orang yang pelit, pendusta, dan penakut.[6]

 

Sebagaimana diriwayatkan oleh Juber bin Muth’im radhiyallahu anhu di mana hal ini terjadi ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kembali dari Hunain dan saat orang-orang berebutan mendekat untuk mengajukan permintaan kepada beliau sehingga selendang beliau sampai terlepas.

Abu Dzarr radhiyallahu anhu meriwayatkan:

[Aku pernah berjalan bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di kawasan tanah berbatu hitam (alharrah) Madinah. Lalu kami menghadap gunung Uhud dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Hai Abu Dzarr!”Aku menjawab: “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau shallallahu alaihi wasallam lalu bersabda:

مَا يَسُرُّنِيْ أَنَّ عِنْدِيْ مِثْلَ أُحُدٍ هّذَا ذَهَبًا تـَمْضِيْ عَلَيَّ ثَالِثَةٌ وَعِنْدِيْ مِنْهُ دِيْنَارٌ إِلَّا شَيْئًا أَرْصُدُهُ لِدَيْنٍ…

“Aku tidak merasa bahagia andaikan memiliki emas sebesar gunung Uhud lalu sudah berlalu waktu tiga malam tetapi masih tersisa darinya satu dinar di sisiku, kecuali sesuatu yang aku persiapkan untuk membayar hutang…”][7]

Kedermawan yang mencapai puncaknya menjadikan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak hanya sekedar menerima hadiah, tetapi sekaligus juga memberikan pahala (imbal balik yang lebih banyak).  Aisyah radhiyallahu anhu meriwayatkan:  “Adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menerima hadiah dan juga memberikan  imbal balik yang lebih banyak.”[8]

= والله يتولي الجميع برعايته =

[1]H.R. Muslim no:2308

[2]H.R. Muslim no:2311

[3]H.R. Muslim no: 2312

[4]H.R.al-Bukhari no: 6036

[5]H.R.at-Tirmidzi dalam Asy-Syama’il al-Muhammadiyyah no: 356, dari Umar bin Khatthab t

[6]H.R.al-Bukhari no:2821,Kitab al-Jihad was-Sairi, bab (24)

[7]H.R.al-Bukhari no:6444,Kitab ar-Riqaaq, bab (41)

[8]HR Turmudzi dalam Syama’I no:358

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *