Larangan Ihtikar dalam Muamalah (bagian 1)

Oleh: Bahtiar H. Suhesta

Alumnus Chartered Islamic

Finance Profesional CIFP-INCEIF

Kuala Lumpur

Malaysia

Dalam tulisan edisi terdahulu telah disampaikan mengenai larangan berbuat zhalim dalam kegiatan muamalah. Secara istilah, zhalim berarti mengerjakan larangan serta meninggalkan perintah Allah. Oleh karena itu, setiap perbuatan yang melampaui ketentuan syariat adalah perbuatan zhalim yang diharamkan untuk dilakukan. Termasuk dalam kegiatan muamalah.

Satu di antara perbuatan zhalim dalam muamalah adalah al-Ihtikar. Secara bahasa, al-ihtikar berasal dari kata “hakara” yang berarti aniaya. Sedangkan kata “al-hakar” berarti menyimpan makanan dan “al-hakaratun” berarti mengumpulkan (al-jam’u) dan menahan (al-habsu). Al-ihtikar juga berarti penimbunan. Sedangkan secara istilah, al-ihtikar berarti membeli barang pada saat lapang, lalu menimbunnya supaya barang tersebut menjadi langka di pasaran sehingga harganya menjadi berlipat naik. Pembelian barang itu tentu dalam jumlah besar (untuk disimpan) sehingga mengurangi jumlah barang beredar di pasaran. Karena persediaan barang berkurang, maka harga akan naik seiring tingginya permintaan. Pada saat harga naik, barulah barang yang disimpan tersebut dijual ke pasaran. Tujuannya tentu untuk mendapatkan keuntungan yang berlipat ganda.

***

Al-ihtikar adalah perbuatan yang dilarang dalam muamalah Islam. Ia menguntungkan orang yang melakukan penimbunan dan merugikan masyarakat banyak karena harganya menjadi mahal. Banyak sekali hadits yang menyinggung tentang larangan terhadap praktik ini. Imam Muslim meriwayatkan dalam sebuah hadits shahih sebagai berikut:

سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ يُحَدِّثُ أَنَّ مَعْمَرًا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مَنِ احْتَكَرَ فَهُوَ خَاطِئٌ

Sa’id bin Musayyab menceritakan bahwa sesungguhnya Ma’mar berkata, bahwa Rasulullah  pernah bersabda: “Barang siapa yang melakukan praktik ihtikar (menimbun barang), maka dia adalah seseorang yang berdosa.” (H.R. Muslim)

Dalam hadits lain, Imam Ahmad meriwayatkan, “Barangsiapa menimbun suatu timbunan supaya menjualnya dengan harga yang tinggi kepada kaum muslimin, maka dia telah berbuat dosa.” Status hadits ini hasan lighairihi menurut pentahqiq Musnah Ahmad. Dalam riwayat Ibnu Majah juga disebutkan sebuah hadits dhaif berbunyi, “Orang yang mendatangkan barang akan diberi rizqi, dan yang menimbun barang akan dilaknat.”

Di dalam Al-Qur’an, Allah befirman,

يَوْمَ يُحْمَىٰ عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَىٰ بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ ۖ هَٰذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنتُمْ تَكْنِزُون

Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung, dan punggung mereka, (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (Q.S. at-Taubah: 35)

Ibnu Abbas  radhiyallahu anhu menerangkan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan ahli kitab dan kaum muslimin yang menimbun harta mereka.

Larangan dalam hadits-hadits tersebut menunjukkan adanya tuntutan untuk menjauhi atau menghindarinya. Sebutan bagi pelakunya sebagai orang yang berdosa menunjukkan bahwa tuntutan untuk meninggalkan hal tersebut bermakna tegas atau keras. Orang yang melakukan penimbunan telah berbuat aniaya dan kezhaliman terhadap masyarakat banyak, karena masyarakat kekurangan barang yang diperlukannya yang terpaksa ia dapatkan dengan harga yang sedemikian mahal. Hal ini merupakan pengingkaran terhadap syara’ sehingga karenanya termasuk perbuatan yang diharamkan.

***

Para ulama sepakat bahwa kegiatan al-ihtikar atau menimbun ini diharamkan. Namun mereka berbeda pendapat mengenai jenis barang yang ditimbun. Menurut ulama Malikiyah, sebagian Hanabilah, Abu Yusuf, dan Ibnu Abidin dari Hanafi menyatakan bahwa larangan ihtikar tidak terbatas pada makanan, pakaian, dan hewan saja, melainkan meliputi seluruh produk yang diperlukan masyarakat. Yang menjadi illat (motivasi hukum) dalam larangan ihtikar ini adalah “kemudharatan yang menimpa orang banyak.” Oleh karena itu, maka hal tersebut berlaku tidak terbatas pada makanan, pakaian, dan hewan saja, melainkan mencakup seluruh produk yang diperlukan banyak orang.

Sementara Imam asy-Syaukani tidak memerinci produk atau barang apa saja yang ditimbun tersebut, sehingga karenanya seseorang cukup disebut muhtakir (orang yang menimbun) jika barang yang disimpannya itu untuk dijual ketika harganya melonjak naik. Bahkan beliau tak membedakan apakah hal itu terjadi pada saat pasar normal maupun tidak normal. Tidak demikian halnya dengan sebagian ulama Hanabilah dan Imam al-Ghazali, di mana mereka mengkhususkan larangan al-ihtikar pada jenis produk makanan saja. Mereka berpendapat bahwa larangan yang disebut dalam nash adalah terbatas hanya pada makanan. Sedangkan ulama asy-Syafi’iyyah dan Hanafiyyah menyatakan bahwa barang tersebut sebatas pada komoditi berupa makanan bagi manusia dan hewan. Dengan demikian, selain bahan makanan pokok seperti obat-obatan, jamu, wewangian, dan sebagainya tidak terkena larangan untuk ditimbun.

Lain lagi dengan Fathi ad-Duraini, seorang guru besar fikih dan ushul fikih dari Universitas Damaskus. Beliau menyatakan bahwa pelarangan ihtikar tidak terbatas pada komoditi barang, tetapi termasuk juga manfaat suatu komoditas maupun jasa. Syaratnya, komoditi maupun jasa tersebut sangat dibutuhkan masyarakat sedemikian hingga ketika komoditi ditimbun atau layanan jasa dihentikan membuat harganya di pasar tidak stabil.

Sebagai contoh menimbun, seorang pedagang gula di awal Ramadhan tidak mau menjual dagangannya, dan kemudian menimbunnya. Pedagang itu tahu jika di akhir Ramadhan menjelang lebaran, masyarakat sangat membutuhkan gula. Dengan menipisnya gula di pasar, maka harga gula terus naik. Ketika itulah, pedagang gula itu akan menjual gula simpanannya sehingga mendapatkan keuntungan yang berlipat ganda.

Wallahu a’lam.

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *