Shalawat Sebagai Perisai Diri

Oleh : Akhmad Hasan Saleh

Dosen STAIN Kediri

Berawal dari kisah seorang kawan ketika kami berniat untuk menjenguknya karena suatu musibah yang menimpanya. Tepatnya beberapa minggu yang lalu, seorang kawan mendapatkan ujian yang kami anggap berat, yaitu peristiwa tabrakan tunggal.

Ia mengendarai mobil dalam kondisi lelah setelah bertugas seharian menjalankan amanah pekerjaannya. Dalam perjalanan, ia pun tak lupa untuk mulazamah terhadap amalan gurunya dengan membaca shalawat sebanyak 350 kali setiap hari. Ia pun berdzikir sebanyak amanah gurunya sambil mengendarai mobil yang pada saat itu kondisi hujan lebat. Setelah ia berdzikir shalawat, beberapa menit kemudian mengalami kecelakaan. Mobil yang ia tumpangi menabrak “bok” jembatan, sehingga mobil bagian depan hancur tidak berwujud. Teman itu mengalami patah tulang pada bahu sebelah kanan. Dalam pikiran manusia sudah tidak masuk akal setelah melihat kondisi mobil yang hancur dengan kondisi sang kawan itu. Ia tak mengalami pendarahan sedikit pun. Anehnya setiap orang yang menolong mengucapkan “alhamdulillah” termasuk polisi yang berada di lokasi tersebut.

Akhirnya ia dievakuasi dan dibawa ke Rumah Sakit Daerah. Ia pun segera ditangani oleh dokter senior, yang kemudian harus dilakukan operasi penyambungan tulang bahu. Kejadian di Rumah sakit lebih mengagetkan lagi ketika dokter ahli tulang mengatakan bahwa besok Ahad ia harus dioperasi. Sekarang bisa dibayangkan, mana ada dokter mau operasi pada hari libur.

Akhirnya operasi pun dilakukan. Pada saat dilakukan anestesi (pembiusan), ia pun tak sadarkan diri. Operasi pun dimulai. Inilah kejadian yang sangat mencengangkan bagi saya. Ia bercerita bahwa ketika dalam kondisi tidak sadar, ia didatangi seseorang yang tak terlihat wajahnya. Ia hanya melihat tangan berwarna putih bercahaya dan berlengan emas menuntunnya pada sebuah tempat yang ia rasa bahwa tempat itu adalah syurga. Ia pun bertakbir “Allahu Akbar” ketika melihat keindahan taman itu.

Terus ia berjalan bersama sang penuntun itu, hingga ke beberapa taman. Setiap taman yang ia lihat semakin indah dan semakin indah. Setiap melihat keindahan yang semakin itu, ia pun bertakbir “Allahu Akbar” sehingga selesailah operasi yang berjalan selama 2 jam lamanya itu. Akhirnya kawan itu dibawa ke kamar peristirahatan. Namun dalam perjalanan dari ruang operasi menuju kamar peristirahatan, ia tak berhenti mengucapkan takbir “Allahu Akbar” dalam ketidaksadarannya. Ia pun kaget ketika dibangunkan oleh istri dan kawannya yang sedang mendampingi proses operasi saat sampai di ruang peristirahatan.

Pada saat ia mengucapkan takbir, setiap orang yang melihatnya menganggap bahwa anestesi yang diberikan tidak berhasil, sehingga rasa sakitlah yang dialaminya. Begitulah anggapan setiap perawat, dokter, bahkan istri dan kawannya. Namun berbeda dengan kawan saya itu, ia tak mengalami sedikit pun rasa sakit. Bahkan sebaliknya ia mendapatkan kenikmatan yang ia tak pernah rasakan selama ini. Katanya, “Saya tak dapat musibah, tapi saya mendapatkan kenikmatan.” Karena itu, yang muncul dari ucapannya adalah rasa syukur “alhamdulillah”.

Kisah itu pun tak hanya berujung pada selesainya operasi. Tiga hari setelah operasi, kawan ini sudah bisa pulang dengan rawat jalan. Akhirnya istri sang kawan harus melakukan pelunasan biaya rumah sakit. Setelah sampai di loket pembayaran, sang istri kaget karena biaya operasi dan perawatan selama di rumah sakit tidak perlu dibayar alias gratis. Subhanallah, kita bisa bayangkan biaya operasi tulang yang tidak sedikit antara 12 sampai 20 juta tidak perlu dibayar. Inilah wujud pertolongan Allah pada seorang hamba yang mencintai shalawat dan istiqamah dengan dzikir shalawat.

Lebih anehnya lagi, tempat kerjanya pun meminta kuitansi pembayaran rumah sakit untuk membantu pembiayaan operasi dan perawatan. Ia pun heran dan bingung, karena tak mengeluarkan uang sepeserpun untuk biaya rumah sakit dan tidak ada kuitansi pembayaran yang ia pegang. Inilah yang dinamakan dengan “ar-rizqu min haitsu laa yahtasib” (rizqi datang tak disangka-sangka), bahkan rizqi datang seakan-akan ditolak-tolak karena sudah merasa cukup dengan pemberian Allah.

***

Keajaiban Shalawat sebagai perisai diri begitu dahsyat ketika diamalkan dengan istiqamah. Sehingga ujian atau musibah tak terasa sebagai sesuatu yang meresahkan atau membingungkan, namun sebaliknya menjadi kenikmatan, karena Rasulullah “hadir” untuk menolong diri kita dengan syafaatnya.

Begitulah dahsyatnya sebuah shalawat sebagai perisai diri. Memperbanyak shalawat berarti memperkuat kecintaan kita pada Rasulullah. Jangan pernah menganggap bahwa Rasulullah itu tidak hidup. Rasulullah tak pernah mati. Ketika kita bershalawat, maka Rasulullah mendengar bahkan hadir dan menjadi saksi atas shalawat yang kita lantunkan (dzikirkan). Sebagaimana sabda Rasulullah bahwa orang mati itu mendengar suara sandal manusia di permukaan bumi. Bagimana dengan Rasulullah yang selalu disebut-sebut? Hal ini menunjukkan bahwa Rasulullah tak pernah wafat. Manusia kalau selalu disebut dan tak pernah hilang dari ingatan berarti ia ada dan hidup.

Demikianlah yang terjadi pada Rasulullah . Sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Taqiyyuddin as-Subkhi atas kewafatan Rasulullah sebagai manusia yang memiliki keistimewaan. Beliau menjelaskan, “Kematian di sini tidak secara terus-menerus, tetapi sesungguhnya Nabi Muhammad  (dan para Nabi lain) setelah wafat dihidupkan kembali untuk menjalani kehidupan ukhrawi. Dan sudah pasti kehidupan itu lebih sempurna daripada kehidupan orang yang mati syahid yang secara jelas ditegaskan dalam al-Qur’an. Arwah mereka hidup dan berkelana di alam surga dengan menaiki burung-burung berwarna hijau. Sementara juga dinyatakan bahwa jasad para Nabi tidak bisa rusak. Adapun kembalinya ruh ke tubuh, maka hal itu telah disebutkan dalam hadits shahih yang berlaku bagi seluruh orang yang meninggal dunia, apalagi orang yang mati syahid dan para Nabi. Hal ini pula dikuatkan oleh hadits bahwa Nabi Muhammad  shalat di dalam kuburnya. Begitu pula halnya dengan para Nabi lain, di mana shalat merupakan ibadah yang menuntut adanya kehidupan…”.

Demikianlah Rasulullah tetap hidup sampai hari Kiamat dan sesudahnya sebagaimana hadits yang diriwayatkan Anas bin Malik , bahwa Rasulullah  bersabda, “maa min nabiyyin ya muutu fayuqiimu fii qobrihi illaa arba’iina shobaahan hatta turadda ilaihi ruuhuhu” (Tiada seorang Nabi yang meninggal dunia lalu berdiam dikuburnya kecuali 40 hari sehingga ruhnya dikembalikan padanya). Hadits tersebut menunjukkan bahwa sesungguhnya Rasulullah  masih hidup dengan jasad dan ruhnya. Sebagaimana penjelasan al-Qadhi Iyadh bahwa Rasulullah dan para Nabi bisa beraktivitas (tasharruf) dan berjalan di penjuru bumi sesuai kemauan dalam alam malakut dan dalam kondisi seperti sebelum wafat, tidak berubah sedikit pun, dan sesungguhnya beliau ghaib dari pandangan mata sebagaimana malaikat. Maka ketika Allah berkehendak membuka hijab dari orang yang dikehendaki-Nya untuk memperoleh kemuliaan melihat Nabi , maka orang tersebut akan melihat Beliau.

***

Oleh karena itu, jangan pernah kita lepaskan shalawat dari lisan ini, basahilah selalu lisan ini dengan shalawat sebanyak-banyaknya, maka Allah dan Rasul-Nya akan selalu ada dalam hati dan pasti kita akan mendapatkan pertolongan dan syafaat Baginda Rasulullah  di kala kita mendapat ujian dan musibah kehidupan. Jadikan Shalawatmu sebagai Perisai Dirimu.

Wallahu a’lam bissawaf.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *